Jumat, 08 April 2016

KETAHANAN EKONOMI MIKRO INDONESIA DALAM PRODUKSI BATIK PEKALONGAN



Ketahanan ekonomi merupakan suatu kondisi dinamis kehidupan perekonomian bangsa yang berisi keuletan dan ketangguhan, kekuatan nasional dalam menghadapi serta mengatasi segala tantangan dan dinamika perekonomian baik yang datang dari dalam maupun dari luar Negara dan secara langsung maupun tidak langsung menjamin kelangsungan dan peningkatan perekonomian bangsa dan Negara.
Wujud ketahanan ekonomi tercermin dalam kondisi kehidupan perekonomian bangsa yang mampu memillihara stabilitas ekonomi yang sehat dan dinamis, menciptakan kemandirian ekonomi nasional yang berdaya saing tinggi, dan mewujudkan kemakmuran rakyat yang secara adil dan merata. Dengan demikian, pembangunan ekonomi diarahkan kepada mantapnya ketahanan ekonomi melalui suatu iklim usaha yang sehat serta pemanfaatan ilmu pengetahuan dan teknologi, tersedianya barang dan jasa, terpeliharanya fungsi lingkungan hidup serta meningkatnya daya saing dalam lingkup perekonomian global.
            Pembangunan  Ekonomi  yang  dicanangkan  oleh  Pemerintah  saat  ini salah satunya  sektor  Usaha Mikro  Kecil  Menengah  (UMKM). Salah  satu  pelaku  usaha yang memiliki eksistensi penting namun kadang dianggap “terlupakan” dalam percaturan  kebijakan  di  negeri  ini  adalah  Usaha  Mikro,  Kecil  dan  Menengah (UMKM).  Padahal  jika  kita  mengenal  lebih  jauh  dan  dalam,  peran  UMKM bukanlah  sekedar  pendukung  dalam  kontribusi  ekonomi  nasional.  UMKM  dalam
perekonomian nasional memiliki peran yang penting dan strategis.
            Dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2008 tentang Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah Bab IV yang mengatur tentang Kriteria pada Pasal 6 ayat (1), (2), dan (3) menyebutkan bahwa kriteria Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah diuraikan sebagai berikut.
NO.
URAIAN
KRITERIA


ASET
OMZET
1
Usaha Mikro
Maks. 50 Juta
Maks. 300 Juta
2
Usaha Kecil
> 50 Juta – 500 Juta
> 300 Juta – 2,5 Miliar
3
Usaha Menengah
> 500 Juta – 10 Miliar
> 2,5 Miliar – 50 Miliar

            Salah  satu  gagasan  pemberdayaan  UMKM  di  era perekonomian  sekarang adalah usaha batik di Pekalongan. Usaha  batik  ini diproduksi di rumah-rumah warga dengan memanfaatkan budaya, kesenian dan kreativitas yang mereka punya untuk menghasilkan suatu karya kain batik yang diperjual-belikan guna menopang kebutuhan kehidupan mereka sehari-hari.
Pemerintah tidak tinggal diam ketika melihat aktivitas produksi yang dijalani oleh warga pekalongan sungguh memiliki potensi yang baik untuk meningkatkan taraf hidup warga Pekalongan. Usaha batik ini banyak yang dibiayai oleh program Kredit Usaha Rakyat (KUR) yang telah digalakkan oleh Pemerintah saat ini untuk memberikan modal yang cukup bagi pengusaha-pengusaha mikro, kecil dan menengah. Program pemerintah tersebut diyakini akan sangat membantu warga Pekalongan dalam mengelola usaha kecilnya.
           
Contoh usaha batik menggunakan Kredit Usaha Rakyat (KUR)
             Berbicara tentang batik tentu tak bisa dipisahkan dari Kota Pekalongan, karena daerah ini salah satu penghasil batik terbesar di Indonesia. Batik Pekalongan bukan hanya terkenal di Indonesia, namun juga terkenal di mancanegara karena berkualitas bagus. Karena itu tak heran jika banyak wisatawan domestik dan wisatawan mancanegara yang berkunjung ke Pekalongan untuk berbelanja batik, dan sekaligus mencari peluang untuk berinvestasi di industri batik.
            Industri batik semakin berkembang dalam lima tahun terakhir dengan adanya Kredit Usaha Rakyat (KUR) yang memperkuat permodalan para pengusaha. Pada periode 2007 – September 2012 KUR yang disalurkan BRI Cabang Pekalongan sebesar Rp 54,55 miliar untuk 9.458 nasabah. Khusus tahun 2011 KUR yang digulirkan sebesar Rp 15,08 miliar untuk 2.603 nasabah, dan khusus periode Januari – September 2012 KUR yang digulirkan Rp 6,25 miliar untuk 69 nasabah. Sebanyak 4.729 nasabah atau 50% dari total jumlah 9.458 nasabah menggeluti usaha batik, sedangkan 3.783 nasabah atau 40% bergerak di sektor usaha sembako dan sayur-mayur, dan 945 nasabah atau 10% berjualan ikan.
            KUR berperanan besar dalam meningkatkan omset para dalam meningkatkan omset para pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di Kota Batik tersebut. Setelah mendapat suntikan dana KUR omsetnya melejit sekitar 150% hingga 200%. Peningkatan omset itu terjadi karena dengan adanya KUR barang dagangan mereka bertambah banyak dan jumlah pembeli pun bertambah banyak. Selain KUR juga menciptakan lapangan kerja bagi banyak orang. Dari beragam jenis usaha yang dibiayai KUR terserap tenaga kerja sekitar 30.000 orang. Dari jumlah tersebut sebanyak 15.000 orang atau 50% bekerja di sektor usaha batik. Dengan demikian KUR berandil dalam pengurangan angka pengangguran.
Manfaat KUR dirasakan oleh Muchmammad Helmi yang berjualan batik di toko merangkap rumahnya di Kelurahan Kauman, Kecamatan Pekalongan Timur. Toko “Batik Shafa” itu dikelolanya bersama isterinya. Kauman dijuliki kampung batik, karena mayoritas warganya menggeluti usaha batik. Tiap hari wisatawan domestik dan wisatawan asing mengunjungi kampung batik itu. Helmi berjualan batik sejak empat tahun lalu dengan modal Rp 2 juta yang berasal dari kantongnya sendiri. Pelan tapi pasti usahanya berjalan lancar. Seiring semakin meningkatnya jumlah kunjungan wisatawan ke Kauman, Helmi perlu memperbanyak barang dagangannya. Untuk itu pada tanggal 22 Juni 2012 ia mengajukan pinjaman KUR sebesar Rp 4 juta dan cair dua hari kemudian. Helmi berkewajiban membayar angsuran Rp 262.900/ bulan selama 18 bulan.
Berkat KUR Helmi dapat kain, kaos, dan baju dalam jumlah cukup banyak dan jumlah pembelinya pun meningkat. Sebelum mendapat KUR omzetnya Rp 500.000/hari, lalu setelah memperloleh KUR meningkat menjadi Rp 1,5 juta/hari atau meningkat 3 kali lipat. Dari omset tersebut Helmi memperoleh keuntungan 20%. “Usaha saya terletak di lokasi yang strategis, sehingga tiap hari ada yang membeli batik. Usaha saya semakin lancar setelah memperoleh KUR, dan jika nanti sudah lunas saya akan meminjam KUR lagi dalam jumlah besar,” kata Helmi.
Pedagang batik lainnya yang mendapat KUR adalah Kisrowiyah yang berjualan di pasar grosir Setono. Perempuan ayu ini telah tiga tahun berjualan di pasar tersebut dengan modal Rp 30 juta. Kisrowiyah menjual kain dan pakaian dengan harga mulai Rp 15.000 hingga Rp 1 juta. Meskipun di pasar grosir Setono banyak yang berjualan batik, toko Kisrowiyah tak pernah sepi dari pembeli. “Alhamdulillah, barang dagangan saya laku dan tiap hari ada yang membeli,” katanya. Untuk mengembangkan usahanya pada tanggal 19 September 2012 Kisrowiyah mengajukan pinjaman KUR dan cair dua hari kemudian. Angsurannya Rp 1.316.200/ bulan selama 18 bulan. Uang KUR dipergunakan untuk tambahan berbelanja kain dan pakaian. Suntikan dana KUR membuat omzetnya melejit dari semula Rp 2 juta per hari menjadi Rp 4 juta perhari.
Perkembangan usaha juga dirasakan oleh Mokhammad Eko Priyono, pengusaha batik di pasar grosir International Batik Center (IBC). Eko, demikian panggilan akrab pria ini, telah sepuluh tahun memproduksi dan berjualan batik. Semula Eko bekerja di sebuah perusahaan batik di Pekalongan, lalu ia memberanikan diri membuka usaha sendiri. Mengawali usahanya dari kecil, usahanya perlahan-lahan mengalami kemajuan. Dari usaha batik itu Eko mempekerjakan 100 orang, sebagian besar membuat batik di rumahnya di Kelurahan Krapyak Kidul, Kecamatan Pekalongan Utara, dan beberapa orang pekerja di tokonya. Bahkan ia mampu membeli toko di IBC sebesar Rp 285 juta pada tahun 2011.
Usahanya semakin berkembang setelah Eko mendapat KUR Rp 110 juta pada tanggal 28 April 2010. dia berkewajiban membayar angsuran Rp 5 juta per enam bulan selama 3 tahun. Sebagian lagi untuk tambahan modal dan sebagian lagi untuk tambahan membeli toko di IBC. Sebelum mendapat KUR omzetnya Rp 40 juta per bulan, lalu meningkat menjadi Rp 70 juta per bulan, dan ia memperoleh keuntungan 20%. “Saya harus bekerja keras untuk memajukan usaha, dan jika usaha saya semakin maju tentu akan banyak tenaga kerja yang terserap,” katanya.


Kesimpulan
            Ketahanan ekonomi suatu negara dapat terwujud dari aktivitas produksi dan penjualan para pengusahanya yaitu dari kalangan masyarakat sendiri. Begitupun dengan Indonesia yang juga memiliki bermacam-macam aktivitas produksi dan penjualan di semua sektor. Ketahanan ekonomi negara Indonesia sangat didukung dari aktivitasnya di usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) salah satunya dari UMKM produksi batik Pekalongan.
            Banyak warga Pekalongan yang memiliki usaha dalam memproduksi batik rumahan yang diberikan bantuan dana oleh pemerintah dengan mengikuti program pemerintah yaitu Kredit Usaha Rakyat (KUR) dengan bunga yang ringan namun bisa membantu warga mendapatkan modal yang lebih besar untuk semakin memperkuat produksi batik tersebut.

Sumber referensi:

2 komentar: