Ketahanan
ekonomi merupakan suatu kondisi dinamis kehidupan perekonomian bangsa yang
berisi keuletan dan ketangguhan, kekuatan nasional dalam menghadapi serta
mengatasi segala tantangan dan dinamika perekonomian baik yang datang dari
dalam maupun dari luar Negara dan secara langsung maupun tidak langsung
menjamin kelangsungan dan peningkatan perekonomian bangsa dan Negara.
Wujud
ketahanan ekonomi tercermin dalam kondisi kehidupan perekonomian bangsa yang
mampu memillihara stabilitas ekonomi yang sehat dan dinamis, menciptakan
kemandirian ekonomi nasional yang berdaya saing tinggi, dan mewujudkan
kemakmuran rakyat yang secara adil dan merata. Dengan demikian, pembangunan
ekonomi diarahkan kepada mantapnya ketahanan ekonomi melalui suatu iklim usaha
yang sehat serta pemanfaatan ilmu pengetahuan dan teknologi, tersedianya barang
dan jasa, terpeliharanya fungsi lingkungan hidup serta meningkatnya daya saing
dalam lingkup perekonomian global.
Pembangunan Ekonomi
yang dicanangkan oleh
Pemerintah saat ini salah satunya sektor
Usaha Mikro Kecil Menengah
(UMKM). Salah satu pelaku
usaha yang memiliki eksistensi penting namun kadang dianggap
“terlupakan” dalam percaturan
kebijakan di negeri
ini adalah Usaha
Mikro, Kecil dan
Menengah (UMKM). Padahal jika
kita mengenal lebih
jauh dan dalam,
peran UMKM bukanlah sekedar
pendukung dalam kontribusi
ekonomi nasional. UMKM
dalam
perekonomian nasional
memiliki peran yang penting dan strategis.
Dalam Undang-Undang Republik
Indonesia Nomor 20 Tahun 2008 tentang Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah Bab IV
yang mengatur tentang Kriteria pada Pasal 6 ayat (1), (2), dan (3) menyebutkan
bahwa kriteria Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah diuraikan sebagai berikut.
NO.
|
URAIAN
|
KRITERIA
|
|
ASET
|
OMZET
|
||
1
|
Usaha Mikro
|
Maks. 50 Juta
|
Maks. 300 Juta
|
2
|
Usaha Kecil
|
> 50 Juta – 500 Juta
|
> 300 Juta – 2,5 Miliar
|
3
|
Usaha Menengah
|
> 500 Juta – 10 Miliar
|
> 2,5 Miliar – 50
Miliar
|
Salah satu
gagasan pemberdayaan UMKM
di era perekonomian sekarang adalah usaha batik di Pekalongan. Usaha batik
ini diproduksi di rumah-rumah warga dengan memanfaatkan budaya, kesenian dan kreativitas yang mereka
punya untuk menghasilkan suatu karya kain batik yang diperjual-belikan guna
menopang kebutuhan kehidupan mereka sehari-hari.
Pemerintah
tidak tinggal diam ketika melihat aktivitas produksi yang dijalani oleh warga
pekalongan sungguh memiliki potensi yang baik untuk meningkatkan taraf hidup warga
Pekalongan. Usaha
batik ini banyak yang dibiayai oleh program Kredit Usaha Rakyat (KUR) yang
telah digalakkan oleh Pemerintah saat ini untuk memberikan modal yang cukup bagi
pengusaha-pengusaha mikro, kecil dan menengah. Program
pemerintah tersebut diyakini akan sangat membantu warga Pekalongan dalam mengelola usaha kecilnya.
Contoh usaha
batik menggunakan Kredit Usaha Rakyat (KUR)
Berbicara
tentang batik tentu tak bisa dipisahkan dari Kota Pekalongan, karena daerah ini
salah satu penghasil batik terbesar di Indonesia. Batik Pekalongan bukan hanya
terkenal di Indonesia, namun juga terkenal di mancanegara karena berkualitas
bagus. Karena itu tak heran jika banyak wisatawan domestik dan wisatawan
mancanegara yang berkunjung ke Pekalongan untuk berbelanja batik, dan sekaligus
mencari peluang untuk berinvestasi di industri batik.
Industri
batik semakin berkembang dalam lima tahun terakhir dengan adanya Kredit Usaha
Rakyat (KUR) yang memperkuat permodalan para pengusaha. Pada periode 2007 –
September 2012 KUR yang disalurkan BRI Cabang Pekalongan sebesar Rp 54,55
miliar untuk 9.458 nasabah. Khusus tahun 2011 KUR yang digulirkan sebesar Rp
15,08 miliar untuk 2.603 nasabah, dan khusus periode Januari – September 2012
KUR yang digulirkan Rp 6,25 miliar untuk 69 nasabah. Sebanyak 4.729 nasabah
atau 50% dari total jumlah 9.458 nasabah menggeluti usaha batik, sedangkan
3.783 nasabah atau 40% bergerak di sektor usaha sembako dan sayur-mayur, dan
945 nasabah atau 10% berjualan ikan.
KUR
berperanan besar dalam meningkatkan omset para dalam meningkatkan omset para
pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di Kota Batik tersebut. Setelah
mendapat suntikan dana KUR omsetnya melejit sekitar 150% hingga 200%.
Peningkatan omset itu terjadi karena dengan adanya KUR barang dagangan mereka
bertambah banyak dan jumlah pembeli pun bertambah banyak. Selain KUR juga
menciptakan lapangan kerja bagi banyak orang. Dari beragam jenis usaha yang
dibiayai KUR terserap tenaga kerja sekitar 30.000 orang. Dari jumlah tersebut
sebanyak 15.000 orang atau 50% bekerja di sektor usaha batik. Dengan demikian
KUR berandil dalam pengurangan angka pengangguran.
Manfaat KUR dirasakan oleh
Muchmammad Helmi yang berjualan batik di toko merangkap rumahnya di Kelurahan
Kauman, Kecamatan Pekalongan Timur. Toko “Batik Shafa” itu dikelolanya bersama
isterinya. Kauman dijuliki kampung batik, karena mayoritas warganya menggeluti
usaha batik. Tiap hari wisatawan domestik dan wisatawan asing mengunjungi
kampung batik itu. Helmi berjualan batik sejak empat tahun lalu dengan modal Rp
2 juta yang berasal dari kantongnya sendiri. Pelan tapi pasti usahanya berjalan
lancar. Seiring semakin meningkatnya jumlah kunjungan wisatawan ke Kauman,
Helmi perlu memperbanyak barang dagangannya. Untuk itu pada tanggal 22 Juni
2012 ia mengajukan pinjaman KUR sebesar Rp 4 juta dan cair dua hari kemudian.
Helmi berkewajiban membayar angsuran Rp 262.900/ bulan selama 18 bulan.
Berkat
KUR Helmi dapat kain, kaos, dan baju dalam jumlah cukup banyak dan jumlah
pembelinya pun meningkat. Sebelum mendapat KUR omzetnya Rp 500.000/hari, lalu
setelah memperloleh KUR meningkat menjadi Rp 1,5 juta/hari atau meningkat 3
kali lipat. Dari omset tersebut Helmi memperoleh keuntungan 20%. “Usaha saya
terletak di lokasi yang strategis, sehingga tiap hari ada yang membeli batik.
Usaha saya semakin lancar setelah memperoleh KUR, dan jika nanti sudah lunas
saya akan meminjam KUR lagi dalam jumlah besar,” kata Helmi.
Pedagang
batik lainnya yang mendapat KUR adalah Kisrowiyah yang berjualan di pasar
grosir Setono. Perempuan ayu ini telah tiga tahun berjualan di pasar tersebut
dengan modal Rp 30 juta. Kisrowiyah menjual kain dan pakaian dengan harga mulai
Rp 15.000 hingga Rp 1 juta. Meskipun di pasar grosir Setono banyak yang
berjualan batik, toko Kisrowiyah tak pernah sepi dari pembeli. “Alhamdulillah,
barang dagangan saya laku dan tiap hari ada yang membeli,” katanya. Untuk
mengembangkan usahanya pada tanggal 19 September 2012 Kisrowiyah mengajukan
pinjaman KUR dan cair dua hari kemudian. Angsurannya Rp 1.316.200/ bulan selama
18 bulan. Uang KUR dipergunakan untuk tambahan berbelanja kain dan pakaian.
Suntikan dana KUR membuat omzetnya melejit dari semula Rp 2 juta per hari
menjadi Rp 4 juta perhari.
Perkembangan
usaha juga dirasakan oleh Mokhammad Eko Priyono, pengusaha batik di pasar
grosir International Batik Center (IBC). Eko, demikian panggilan akrab pria
ini, telah sepuluh tahun memproduksi dan berjualan batik. Semula Eko bekerja di
sebuah perusahaan batik di Pekalongan, lalu ia memberanikan diri membuka usaha
sendiri. Mengawali usahanya dari kecil, usahanya perlahan-lahan mengalami
kemajuan. Dari usaha batik itu Eko mempekerjakan 100 orang, sebagian besar
membuat batik di rumahnya di Kelurahan Krapyak Kidul, Kecamatan Pekalongan
Utara, dan beberapa orang pekerja di tokonya. Bahkan ia mampu membeli toko di
IBC sebesar Rp 285 juta pada tahun 2011.
Usahanya
semakin berkembang setelah Eko mendapat KUR Rp 110 juta pada tanggal 28 April
2010. dia berkewajiban membayar angsuran Rp 5 juta per enam bulan selama 3
tahun. Sebagian lagi untuk tambahan modal dan sebagian lagi untuk tambahan
membeli toko di IBC. Sebelum mendapat KUR omzetnya Rp 40 juta per bulan, lalu
meningkat menjadi Rp 70 juta per bulan, dan ia memperoleh keuntungan 20%. “Saya
harus bekerja keras untuk memajukan usaha, dan jika usaha saya semakin maju
tentu akan banyak tenaga kerja yang terserap,” katanya.
Kesimpulan
Ketahanan ekonomi suatu negara dapat terwujud dari
aktivitas produksi dan penjualan para pengusahanya yaitu dari kalangan
masyarakat sendiri. Begitupun dengan Indonesia yang juga memiliki
bermacam-macam aktivitas produksi dan penjualan di semua sektor. Ketahanan
ekonomi negara Indonesia sangat didukung dari aktivitasnya di usaha Mikro, Kecil
dan Menengah (UMKM) salah satunya dari UMKM produksi batik Pekalongan.
Banyak warga Pekalongan yang
memiliki usaha dalam memproduksi batik rumahan yang diberikan bantuan dana oleh
pemerintah dengan mengikuti program pemerintah yaitu Kredit Usaha Rakyat (KUR)
dengan bunga yang ringan namun bisa membantu warga mendapatkan modal yang lebih
besar untuk semakin memperkuat produksi batik tersebut.
Sumber referensi:

Cerdas Cimel...
BalasHapusBagus suntingannya
Cerdas Cimel...
BalasHapusBagus suntingannya