Jumat, 08 April 2016

KETAHANAN EKONOMI MIKRO INDONESIA DALAM PRODUKSI BATIK PEKALONGAN



Ketahanan ekonomi merupakan suatu kondisi dinamis kehidupan perekonomian bangsa yang berisi keuletan dan ketangguhan, kekuatan nasional dalam menghadapi serta mengatasi segala tantangan dan dinamika perekonomian baik yang datang dari dalam maupun dari luar Negara dan secara langsung maupun tidak langsung menjamin kelangsungan dan peningkatan perekonomian bangsa dan Negara.
Wujud ketahanan ekonomi tercermin dalam kondisi kehidupan perekonomian bangsa yang mampu memillihara stabilitas ekonomi yang sehat dan dinamis, menciptakan kemandirian ekonomi nasional yang berdaya saing tinggi, dan mewujudkan kemakmuran rakyat yang secara adil dan merata. Dengan demikian, pembangunan ekonomi diarahkan kepada mantapnya ketahanan ekonomi melalui suatu iklim usaha yang sehat serta pemanfaatan ilmu pengetahuan dan teknologi, tersedianya barang dan jasa, terpeliharanya fungsi lingkungan hidup serta meningkatnya daya saing dalam lingkup perekonomian global.
            Pembangunan  Ekonomi  yang  dicanangkan  oleh  Pemerintah  saat  ini salah satunya  sektor  Usaha Mikro  Kecil  Menengah  (UMKM). Salah  satu  pelaku  usaha yang memiliki eksistensi penting namun kadang dianggap “terlupakan” dalam percaturan  kebijakan  di  negeri  ini  adalah  Usaha  Mikro,  Kecil  dan  Menengah (UMKM).  Padahal  jika  kita  mengenal  lebih  jauh  dan  dalam,  peran  UMKM bukanlah  sekedar  pendukung  dalam  kontribusi  ekonomi  nasional.  UMKM  dalam
perekonomian nasional memiliki peran yang penting dan strategis.
            Dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2008 tentang Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah Bab IV yang mengatur tentang Kriteria pada Pasal 6 ayat (1), (2), dan (3) menyebutkan bahwa kriteria Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah diuraikan sebagai berikut.
NO.
URAIAN
KRITERIA


ASET
OMZET
1
Usaha Mikro
Maks. 50 Juta
Maks. 300 Juta
2
Usaha Kecil
> 50 Juta – 500 Juta
> 300 Juta – 2,5 Miliar
3
Usaha Menengah
> 500 Juta – 10 Miliar
> 2,5 Miliar – 50 Miliar

            Salah  satu  gagasan  pemberdayaan  UMKM  di  era perekonomian  sekarang adalah usaha batik di Pekalongan. Usaha  batik  ini diproduksi di rumah-rumah warga dengan memanfaatkan budaya, kesenian dan kreativitas yang mereka punya untuk menghasilkan suatu karya kain batik yang diperjual-belikan guna menopang kebutuhan kehidupan mereka sehari-hari.
Pemerintah tidak tinggal diam ketika melihat aktivitas produksi yang dijalani oleh warga pekalongan sungguh memiliki potensi yang baik untuk meningkatkan taraf hidup warga Pekalongan. Usaha batik ini banyak yang dibiayai oleh program Kredit Usaha Rakyat (KUR) yang telah digalakkan oleh Pemerintah saat ini untuk memberikan modal yang cukup bagi pengusaha-pengusaha mikro, kecil dan menengah. Program pemerintah tersebut diyakini akan sangat membantu warga Pekalongan dalam mengelola usaha kecilnya.
           
Contoh usaha batik menggunakan Kredit Usaha Rakyat (KUR)
             Berbicara tentang batik tentu tak bisa dipisahkan dari Kota Pekalongan, karena daerah ini salah satu penghasil batik terbesar di Indonesia. Batik Pekalongan bukan hanya terkenal di Indonesia, namun juga terkenal di mancanegara karena berkualitas bagus. Karena itu tak heran jika banyak wisatawan domestik dan wisatawan mancanegara yang berkunjung ke Pekalongan untuk berbelanja batik, dan sekaligus mencari peluang untuk berinvestasi di industri batik.
            Industri batik semakin berkembang dalam lima tahun terakhir dengan adanya Kredit Usaha Rakyat (KUR) yang memperkuat permodalan para pengusaha. Pada periode 2007 – September 2012 KUR yang disalurkan BRI Cabang Pekalongan sebesar Rp 54,55 miliar untuk 9.458 nasabah. Khusus tahun 2011 KUR yang digulirkan sebesar Rp 15,08 miliar untuk 2.603 nasabah, dan khusus periode Januari – September 2012 KUR yang digulirkan Rp 6,25 miliar untuk 69 nasabah. Sebanyak 4.729 nasabah atau 50% dari total jumlah 9.458 nasabah menggeluti usaha batik, sedangkan 3.783 nasabah atau 40% bergerak di sektor usaha sembako dan sayur-mayur, dan 945 nasabah atau 10% berjualan ikan.
            KUR berperanan besar dalam meningkatkan omset para dalam meningkatkan omset para pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di Kota Batik tersebut. Setelah mendapat suntikan dana KUR omsetnya melejit sekitar 150% hingga 200%. Peningkatan omset itu terjadi karena dengan adanya KUR barang dagangan mereka bertambah banyak dan jumlah pembeli pun bertambah banyak. Selain KUR juga menciptakan lapangan kerja bagi banyak orang. Dari beragam jenis usaha yang dibiayai KUR terserap tenaga kerja sekitar 30.000 orang. Dari jumlah tersebut sebanyak 15.000 orang atau 50% bekerja di sektor usaha batik. Dengan demikian KUR berandil dalam pengurangan angka pengangguran.
Manfaat KUR dirasakan oleh Muchmammad Helmi yang berjualan batik di toko merangkap rumahnya di Kelurahan Kauman, Kecamatan Pekalongan Timur. Toko “Batik Shafa” itu dikelolanya bersama isterinya. Kauman dijuliki kampung batik, karena mayoritas warganya menggeluti usaha batik. Tiap hari wisatawan domestik dan wisatawan asing mengunjungi kampung batik itu. Helmi berjualan batik sejak empat tahun lalu dengan modal Rp 2 juta yang berasal dari kantongnya sendiri. Pelan tapi pasti usahanya berjalan lancar. Seiring semakin meningkatnya jumlah kunjungan wisatawan ke Kauman, Helmi perlu memperbanyak barang dagangannya. Untuk itu pada tanggal 22 Juni 2012 ia mengajukan pinjaman KUR sebesar Rp 4 juta dan cair dua hari kemudian. Helmi berkewajiban membayar angsuran Rp 262.900/ bulan selama 18 bulan.
Berkat KUR Helmi dapat kain, kaos, dan baju dalam jumlah cukup banyak dan jumlah pembelinya pun meningkat. Sebelum mendapat KUR omzetnya Rp 500.000/hari, lalu setelah memperloleh KUR meningkat menjadi Rp 1,5 juta/hari atau meningkat 3 kali lipat. Dari omset tersebut Helmi memperoleh keuntungan 20%. “Usaha saya terletak di lokasi yang strategis, sehingga tiap hari ada yang membeli batik. Usaha saya semakin lancar setelah memperoleh KUR, dan jika nanti sudah lunas saya akan meminjam KUR lagi dalam jumlah besar,” kata Helmi.
Pedagang batik lainnya yang mendapat KUR adalah Kisrowiyah yang berjualan di pasar grosir Setono. Perempuan ayu ini telah tiga tahun berjualan di pasar tersebut dengan modal Rp 30 juta. Kisrowiyah menjual kain dan pakaian dengan harga mulai Rp 15.000 hingga Rp 1 juta. Meskipun di pasar grosir Setono banyak yang berjualan batik, toko Kisrowiyah tak pernah sepi dari pembeli. “Alhamdulillah, barang dagangan saya laku dan tiap hari ada yang membeli,” katanya. Untuk mengembangkan usahanya pada tanggal 19 September 2012 Kisrowiyah mengajukan pinjaman KUR dan cair dua hari kemudian. Angsurannya Rp 1.316.200/ bulan selama 18 bulan. Uang KUR dipergunakan untuk tambahan berbelanja kain dan pakaian. Suntikan dana KUR membuat omzetnya melejit dari semula Rp 2 juta per hari menjadi Rp 4 juta perhari.
Perkembangan usaha juga dirasakan oleh Mokhammad Eko Priyono, pengusaha batik di pasar grosir International Batik Center (IBC). Eko, demikian panggilan akrab pria ini, telah sepuluh tahun memproduksi dan berjualan batik. Semula Eko bekerja di sebuah perusahaan batik di Pekalongan, lalu ia memberanikan diri membuka usaha sendiri. Mengawali usahanya dari kecil, usahanya perlahan-lahan mengalami kemajuan. Dari usaha batik itu Eko mempekerjakan 100 orang, sebagian besar membuat batik di rumahnya di Kelurahan Krapyak Kidul, Kecamatan Pekalongan Utara, dan beberapa orang pekerja di tokonya. Bahkan ia mampu membeli toko di IBC sebesar Rp 285 juta pada tahun 2011.
Usahanya semakin berkembang setelah Eko mendapat KUR Rp 110 juta pada tanggal 28 April 2010. dia berkewajiban membayar angsuran Rp 5 juta per enam bulan selama 3 tahun. Sebagian lagi untuk tambahan modal dan sebagian lagi untuk tambahan membeli toko di IBC. Sebelum mendapat KUR omzetnya Rp 40 juta per bulan, lalu meningkat menjadi Rp 70 juta per bulan, dan ia memperoleh keuntungan 20%. “Saya harus bekerja keras untuk memajukan usaha, dan jika usaha saya semakin maju tentu akan banyak tenaga kerja yang terserap,” katanya.


Kesimpulan
            Ketahanan ekonomi suatu negara dapat terwujud dari aktivitas produksi dan penjualan para pengusahanya yaitu dari kalangan masyarakat sendiri. Begitupun dengan Indonesia yang juga memiliki bermacam-macam aktivitas produksi dan penjualan di semua sektor. Ketahanan ekonomi negara Indonesia sangat didukung dari aktivitasnya di usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) salah satunya dari UMKM produksi batik Pekalongan.
            Banyak warga Pekalongan yang memiliki usaha dalam memproduksi batik rumahan yang diberikan bantuan dana oleh pemerintah dengan mengikuti program pemerintah yaitu Kredit Usaha Rakyat (KUR) dengan bunga yang ringan namun bisa membantu warga mendapatkan modal yang lebih besar untuk semakin memperkuat produksi batik tersebut.

Sumber referensi:

Rabu, 23 Maret 2016

EKSTERNALITAS JARINGAN DALAM TEORI EKONOMI



Dalam ilmu ekonomi, eksternalitas jaringan terjadi ketika permintaan seorang individu bergantung pada pembelian individu-individu lainnya. Eksternalitas jaringan dapat berwujud postif atau negatif. Disebut postif apabila jumlah barang yang diminta konsumen tertentu meningkat akibat adanya peningkatan pembelian oleh konsumen lain. Sedangkan eksternalitas jaringan negatif terjadi apabila permintaan menurun akibat adanya peningkatan pembelian oleh orang lain.
Contoh dari eksternalitas jaringan positif terjadi pada situs jaringan sosial seperti Facebook, Twitter, Instagram, Path, dan lain-lain. Semakin banyak orang yang telah bergabung dengan situs jaringan sosial tersebut, semakin banyak pula orang yang ingin mendaftar.

Pengertian Eksternalitas
Eksternalitas merupakan efek samping suatu tindakan pelaku ekonomi terhadap pelaku ekonomi lain yang merupakan pengaruh-pengaruh sampingan terjadi apabila perusahaan-perusahaan atau orang-orang membebankan biaya atau manfaat atas orang lain diluar tempat berlangsungnya pasar. Eksternalitas muncul ketika seseorang atau perusahaan mengambil tindakan yang mempunyai efek bagi seseorang ataupun perusahaan, efek tersebut tidak dibayar oleh individu atau perusahaan yang bertindak. Disebut eksternal karena mekanisme pasar tidak dapat memasukkan semua biaya, yaitu biaya sosial, biaya sebenarnya dari barang tersebut dalam penentuan harga barang (true cost). Eksternalitas dibagi menjadi dua tipe yaitu eksternalitas positif dan eksternalitas negatif. Eksternalitas positif terjadi apabila pengaruh sampingan sifatnya membangun. Salah satu contohnya yaitu pembangunan jaringan jalan raya. Sedangkan eksternalitas negatif akan terjadi apabila pengaruh sampingannya bersifat menganggu dapat berupa gangguan kecil hingga ancaman besar. Contohnya antara lain, polusi udara dan air, kerusakan karena pertambangan terbuka, limbah-limbah berbahaya, obat-obatan dan makanan yang membahayakan dan bahan-bahan radio aktif.

Jenis-Jenis Eksternalitas
Jenis-jenis ekternalitas yang dapat terjadi dalam interaksi ekonomi (Pearee dan Nash, 1991; Bohm, 1991):
1)         Dampak Suatu Produsen Terhadap Produsen Lain 
Suatu kegiatan produksi dikatakan mempunyai dampak eksternal terhadap produsen lain jika kegiatannya itu mengakibatkan terjadinya perubahan atau penggeseran fungsi produksi dari produsen lain. Dampak atau efek yang termasuk dalam kategori ini meliputi biaya pemurnian atau pembersihan air yang dipakai (eater intake clen-up costs) oleh produsen hilir (downstream producers) yang menghadapi pencemaran air (water polution) yang diakibatkan oleh produsen hulu (upstream producers). Hal ini terjadi ketika produsen hilir membutuhkan air bersih untuk proses produksinya. Dampak kategori ini bisa dipahami lebih jauh dengan contoh lain berikut ini. Suatu proses produksi (misalnya perusahaan pulp) menghasilkan limbah-residu-produk sisa yang beracun dan masuk ke aliran sungai, danau, atau semacamnya, sehingga produksi ikan terganggu dan akhirnya merugikan produsen lain yakni para penangkap ikan (nelayan). Dalam hal ini, kegiatan produksi pulp tersebut mempunyai dampak negatif terhadap produksi lain (ikan) atau nelayan, dan inilah yang dimaksud dengan efek suatu kegiatan produksi terhadap produksi komoditi lain.

2)         Dampak Produsen Terhadap Konsumen
Suatu produsen dikatakan mempunyai eksternal efek terhadap konsumen, jika aktivitasnya merubah atau menggeser fungsi utilitas rumah tangga (konsumen). Dampak atau efek samping yang sangat populer dari kategori kedua yang populer adalah pencemaran atau polusi. Kategori ini meliputi polusi suara (noise), berkurangnya fasilitas daya tarik alam (amenity) karena pertambangan, bahaya radiasi dari stasiun pembangkit (polusi udara) serta polusi air, yang semuanya mempengaruhi kenyamanan konsumen atau masyarakat luas. Dalam hal ini, suatu agen ekonomi (perusahaan-produsen) yang menghasilkan limbah (wasteproducts) ke udara atau ke aliran sungai mempengaruhi pihak dan agen lain yang memanfaatkan sumber daya alam tersebut dalam berbagai bentuk. Sebagai contoh, kepuasan konsumen terhadap pemanfaatan daerah-daerah rekreasi akan berkurang dengan adanya polusi udara.

3)         Dampak Konsumen Terhadap Konsumen Lain 
Dampak konsumen terhadap konsumen yang lain terjadi jika aktivitas seseorang atau kelompok tertentu mempengaruhi atau menggangu fungsi utilitas konsumen yang lain. Konsumen seorang individu bisa dipengaruhi tidak hanya oleh efek samping dari kegiatan produksi tetapi juga oleh konsumsi oleh individu yang lain. Dampak atau efek dari kegiatan suatu seorang konsumen yang lain dapat terjadi dalam berbagai bentuk. Misalnya, bisingnya suara alat pemotong rumput tetangga, kebisingan bunyi radio atau musik dari tetangga, asap rokok seseorang terhadap orang sekitarnya dan sebagainya.

4)         Dampak Konsumen Terhadap Produsen
Dampak konsumen terhadap produsen terjadi jika aktivitas konsumen mengganggu fungsi produksi suatu produsen atau kelompok produsen tertentu. Dampak jenis ini misalnya terjadi ketika limbah rumah tangga terbuang ke aliran sungai dan mencemarinya sehingga menganggu perusahaan tertentu yang memanfaatkan air baik oleh penangkap ikan (nelayan) atau perusahaan yang memanfaatkan air bersih. Lebih jauh Baumol dan Oates (1975).

Faktor-Faktor Penyebab Ekternalitas
1)         Keberadaan Barang Publik
Karena sifat barang publik yang tidak ekslusif dan merupakan konsumsi umum.  Keadaan seperti akhirnya cendrung mengakibatkan berkurangnya insentif atau rangsangan untuk memberikan kontribusi terhadap penyediaan dan pengelolaan barang publik.  Kalaupun ada kontribusi, maka sumbangan itu tidaklah cukup besar untuk membiayai penyediaan barang publik yang efisien, karena masyarakat cendrung memberikan nilai yang lebih rendah dari yang seharusnya (undervalued).

2)         Sumber Daya Bersama
Keberadaan sumber daya bersama (common resources) atau akses terbuka terhadap sumber daya tertentu  ini tidak jauh berbeda dengan keberadaan barang publik di atas. 

Sumber-sumber daya milik bersama, sama halnya dengan barang-barang publik, tidak ekskludabel.  Sumber-sumber daya ini terbuka bagi siapa saja yang ingin memanfaatkannya, dan cuma-cuma.  Namun tidak seperti barang publik, sumber daya milik  bersama memiliki sifat bersaingan.  Pemanfaatannya oleh seseorang, akan mengurangi peluang bagi orang lain untuk melakukan hal yang sama.  Jadi, keberadaan sumber daya milik bersama ini, pemerintah juga perlu mempertimbangkan seberapa banyak pemanfaatannya yang efisien.  Contoh klasik tentang bagaimana eksternalitas terjadi pada kasus sumberdaya bersama ini adalah seperti yang diperkenalkan oleh Hardin (1968) yang terkenal dengan istilah tragedi barang umum (the tragedy of the commons).

3)         Ketidaksempurnaan Pasar
Masalah lingkungan bisa juga terjadi ketika salah satu partisipan didalam suatu tukar manukar hak-hak kepemilikan (property rights) mampu mempengaruhi hasil yang terjadi (outcome).  Hal ini bisa terjadi pada pasar yang tidak sempurna  (imperfect market) seperti pada kasus monopoli (penjual tunggal).

4)         Kegagalan Pemerintah
Sumber ketidakefisienan dan atau eksternalitas tidak saja diakibatkan oleh kegagalan pasar tetapi juga karena kegagalan pemerintah (government failure).  Kegagalan pemerintah banyak diakibatkan tarikan kepentingan pemerintah sendiri atau kelompok tertentu (interest groups) yang tidak mendorong efisiensi.  Kelompok tertentu ini memanfaatkan pemerintah untuk mencari keuntungan (rent seeking) melalui proses politik, melalui kebijaksanaan dan sebagainya.

Eksternalitas Negatif Dan Positif Dalam Produksi Maupun Konsumsi
1)         Eksternalitas Negatif Dari Produksi
Pengertian eksternalitas negatif lebih kurang adalah efek samping yang negatif dari suatu tindakan dari pelaku ekonomi (katakanlah suatu perusahaan) yang di derita oleh pihak yang tidak terlibat dalam tindakan ekonomi tersebut (bystander). Misalnya pada umumnya pabrik akan mengeluarkan asap. Yang secara umum dapat dikatakan bahwa setiap tindakan ekonomi berpotensi membawa efek samping, yang permasalahannya hanya pada tingkat gangguannya saja. Dengan demikian, pelarangan secara total akan menghentikan kegiatan ekonomi pada sektor usaha ini. dengan adanya efek negatif ini.

2)         Eksternalitas Positif dari Produksi
Yang dimaksud dengan eksternalitas positif adalah dampak yang menguntungkan dari suatu tindakan yang dilakukan oleh suatu pihak terhadap orang lain tanpa adanya kompensasi dari pihak yang diuntungkan. meskipun banyak pasar dimana biaya social melebihi biaya pribadi, ada pula pasar-pasar yang justru sebaliknya, yakni biaya pribadi para produsen lebih besar dari biaya sosialnya di pasar inilah, eksternalitasnya bersifat positif, dalam arti menguntungan pihak lain (selain produsen dan konsumen). Contoh yang dapat di kemukakan disini adalah pasar robot industry (robot yang khusus di rancang untuk melakukan kegiatan atau fungsi tertentu di pabrik-pabrik). Robot adalah ujung tombak dari kemajuan teknologi yang mutakhir. Sebuah perusahaan yang mampu membuat robot, akan berkesempatan besar menemukan rancangan-rancangan rekayasa baru yang serba lebih baik. Rancangan ini tidak hanya akan menguntungkan perusahaan yang bersangkutan, namun juga masyarakat secara keseluruhan karena pada akhirnya rancangan itu akan menjadi pengetahuan umum yang bermanfaat.

3)         Eksternalitas Dalam Konsumsi
Sejauh ini, eksternalitas yang telah kita bahas hanya eksternalitas yang berkaitan dengan kegiatan produksi. Selain itu masih ada eksternalitas yang terkandung dalam kegiatan konsumsi. Konsumsi minuman beralkohol, misalnya, mengandung eksternalitas negatif jika si peminum lantas mengemudikan mobil dalam keadaan mabuk atau setengah mabuk, sehingga membahayakan pemakai jalan lainnya. Eksternalitas dalam konsumsi ini juga ada yang bersifat positif. Contohnya adalah konsumsi pendidikan. Semakin banyak orang yang terdidik, masyarakat atau pemerintahnya akan diuntungkan. Pemerintah akan lebih mudah merekrut tenaga-tenaga cakap, sehingga pemerintah lebih mampu menjalankan fungsinya dalam melayani masyarakat.

Solusi Swasta Terhadap Eksternalitas
Kita telah menyimak bahwa keberadaan eksternalitas itu dapat mengakibatkan alokasi sumber daya yang dilakukan oleh pasar menjadi tidak efisien. Namun sejauh ini kita baru mengulas secara sekilas tentang cara-cara mengatasi eksternalitas tersebut. Dalam prakteknya, bukan hanya pemerintah saja yang perlu dan dapat mengatasi eksternalitas itu, melainkan juga pihak-pihak nonpemerintah, baik itu pribadi/kelompok maupun perusahaan/organisasi kemasyarakatan. Untuk mudahnya, kita sebut saja pihak-pihak nonpemerintah tersebut sebagai pihak “pribadi” atau “swasta”. Pada dasarnya, tujuan yang hendak dicapai oleh pemerintah maupun pihak swasta (perorangan dan kelompok), berkenaan dengan penanggulangan eksternalitas itu sama saja, yakni untuk mendorong alokasi sumber daya agar mendekati kondisi yang optimum secara sosial. Pada bagian pembahasan berikut kita akan menelaah solusi-solusi atau upaya-upaya yang dilakukan oleh pribadi atau swasta (private solutions) dalam mengatasi persoalan eksternalitas.

1)         Jenis-jenis Solusi Swasta
Inefisiensi pasar akibat eksternalitas tidak perlu selalu harus atau bisa diatasi dengan penegakan atau peningkatan standar moral, atau ancaman penerapan sanksi sosial. Misalnya, mengapa orang-orang secara sadar tidak mau membuang sampah sembarangan? Peraturan resmi yang mengatur tentang sampah memang ada, namun di banyak tempat, peraturan semacam itu tidak dijalankan secara sungguh-sungguh. Kita tidak mau membuang sampah di sembarang tempat juga bukan karena takut dengan peraturan-peraturan semacam itu, namun karena kita mengetahui atau menyadari bahwa tidaklah baik dan tidak patut sejak kita masih kanak-kanak, bahwa kita boleh melakukan sesuatu moral inilah yang kemudian membatasi perilaku dan tindakan kita, agar sedapat mungkin tidak merugikan orang lain. Dalam bahasa ekonomi, ajaran agama itu meminta kita untuk melakukan internalisasi eksternalitas.

Contoh lain solusi swasta, adalah derma atau amal yang seringkali sengaja diorganisasikan untuk mengatasi suatu eksternalitas. Contohnya adalah Sierra Club, sebuah organisasi sosial swasta yang sengaja dibentuk untuk turut melestarikan lingkungan hidup. Organisasi ini mengandalkan pemasukannya dari donasi pihak-pihak yang bersimpati atau iuran anggota. Hal ini sebagai contoh untuk eksternalitas negatif. Sedangkan untuk eksternalitas positif, kita mengetahui banyak perguruan tinggi yang membentuk yayasan yang menghimpun sumbangan dari para alumni, perusahaan, atau pihak-pihak lain, untuk kemudian disalurkan sebagai beasiswa.

Pasar swasta terkadang juga mampu mengatasi masalah eksternalitas, dengan membiarkan pihak-pihak yang berkepentingan untuk mengatasinya. Motif utama mereka memang untuk memenuhi kepentingannya sendiri, namun dalam melakukan suatu tindakan, mereka juga sekaligus mengatasi eksternalitas. Sebagai contoh, kita lihat saja apa yang akan dilakukan oleh seorang petani apel dan seorang peternak lebah yang hidup berdekatan. Pada saat lebah-lebah itu mencari madu dari satu bunga apel ke bunga lainnya, mereka membantu penyerbukan dan mempercepat pohon-pohon apel itu berbuah. Ini menguntungkan si petani apel. Sedangkan si peternak juga untung karena ia tidak perlu memberi makan lebah-lebahnya. Namun jika kerja sama terselubung yang saling menguntungakan itu tidak dipehitungkan, maka kedua belah pihak bisa merugi. Jika pohon apel yang ditanam si petani terlalu sedikit, maka lebah-lebah itu akan kekurangan makanan. Sebaliknya, jika lebah yang dipelihara si peternak terlalul sedikit, maka proses penyerbukan tidak lancar. Eksternalitas ini dapat diinternalisasikan dengan cara penggabungan kedua usaha. Si petani membeli seluruh atau sebagian usaha peternakan lebah, atau sebaliknya si peternak membeli seluruh atau sebagian pohon apel. Jika kedua usaha itu disatukan, maka pengelolanya akan lebih mudah menentukan berapa banyak pohon apel yang harus ditanam, dan berapa ekor lebah yang harus dipelihara, demi membuahkan hasil yang maksimal. Dalam kenyataannya, niat untuk mengupayakan internalisasi eksternalisasi seperti itulah, yang merupakan penyebab mengapa banyak perusahaan yang menekuni lebih dari satu bidang/jenis usaha sekaligus. Cara lain di pasar swasta dalam mengatasi eksternalitas adalah, penyusunan kontrak atau perjanjian di antara pihak-pihak yang menaruh kepentingan.

2)         Teorema Coase
Ada sebuah pemikiran yang disebut teorema Coase (Coase therem) mengambil nama perumusnya, yakni ekonom Ronald Coase-yang menyatakan bahwa solusi swasta bisa sangat efektif seandainya memenuhi satu syarat. Syarat itu adalah pihak-pihak yang berkepentingan dapat melakukan negosiasi atau merundingkan langkah-langkah penanggulangan masalah eksternalitas yang ada diantara mereka, tanpa menimbulkan biaya khusus yang memberatkan alokasi sumber daya yang sudah ada. Menurut teorema Coase, hanya jika syarat itu terpenuhi, maka pihak swasta itu akan mampu mengatasi masalah eksternalitas dan meningkatkan efisiensi alokasi sumber daya.

3)         Penyebab Gagalnya Solusi Swasta
Logika teorema Coase memang meyakinkan, namun tidak selamanya sesuai dengan kenyataan yang ada. Dalam prakteknya, kita tahu bahwa pelaku-pelaku ekonomi swasta/pribadi seringkali gagal memperoleh pemecahan yang efisien, atas suatu masalah yang bersumber dari eksternalitas. Teorema Coase ternyata hanya berlaku, jika pihak-pihak yang berkepentingan tidak dihadapkan pada kendala untuk mencapai dan melaksanakan kesepakatan. Itu berarti, peluang kesepakatan memang selalu terbuka, namun hal itu tidak selalu bisa diwujudkan.

Kebijakan Publik Untuk Mengatasi Eksternalitas
1)         Regulasi
Mengatasi suatu eksternalitas dengan melarang atau mewajibkan perilaku tertentu dari pihak-pihak tertentu yang disebut regulasi atau pendekatan komando dan kontrol untuk melenyapkan eksternalitas. Seperti pemerintah dapat menindak pihak-pihak tertentu yang mencemari lingkungan dengan limbah produksinya. 

2)         Pajak Pigovian Dan Subsidi
Pajak Pigovian adalah pajak yang khusus diterapkan untuk mengoreksi dampak dari suatu eksternalitas negatif. Disebut pajak pigou karena ditemukan oleh ekonom yang bernama Arthur Pigou (1877-1959). Bentuk dari pajak tersebut adalah ketika ada dua pabrik yaitu pabrik baja dan pabrik kertas yang masing-masing membuang limbah 500 ton per tahun, maka hanya dua pilihan yang mereka lakukan. Pertama, Badan Perlindungan Lingkungan Hidup (EPA, Environmental Protection Agency) akan mewajibkan semua pabrik untuk mengurangi limbahnya hingga 300 ton per tahun atau yang kedua, mereka akan dikenai pajak sebesar $50,000 untuk setiap ton limbah yang dibuang oleh setiap pabrik.
Memberi subsidi untuk kegiatan-kegiatan yang memunculkan eksternalitas positif.