Dalam
ilmu ekonomi, eksternalitas jaringan terjadi ketika permintaan seorang individu
bergantung pada pembelian individu-individu lainnya. Eksternalitas jaringan
dapat berwujud postif atau negatif. Disebut postif apabila jumlah barang yang
diminta konsumen tertentu meningkat akibat adanya peningkatan pembelian oleh
konsumen lain. Sedangkan eksternalitas jaringan negatif terjadi apabila
permintaan menurun akibat adanya peningkatan pembelian oleh orang lain.
Contoh
dari eksternalitas jaringan positif terjadi pada situs jaringan sosial seperti Facebook,
Twitter, Instagram, Path, dan lain-lain. Semakin banyak orang yang telah
bergabung dengan situs jaringan sosial tersebut, semakin banyak pula orang yang
ingin mendaftar.
Pengertian Eksternalitas
Eksternalitas
merupakan efek samping suatu tindakan pelaku ekonomi terhadap pelaku ekonomi
lain yang merupakan pengaruh-pengaruh sampingan terjadi apabila
perusahaan-perusahaan atau orang-orang membebankan biaya atau manfaat atas
orang lain diluar tempat berlangsungnya pasar. Eksternalitas muncul ketika
seseorang atau perusahaan mengambil tindakan yang mempunyai efek bagi seseorang
ataupun perusahaan, efek tersebut tidak dibayar oleh individu atau perusahaan
yang bertindak. Disebut eksternal karena mekanisme pasar tidak dapat memasukkan
semua biaya, yaitu biaya sosial, biaya sebenarnya dari barang tersebut dalam
penentuan harga barang (true cost).
Eksternalitas dibagi menjadi dua tipe yaitu eksternalitas positif dan
eksternalitas negatif. Eksternalitas positif terjadi apabila pengaruh sampingan
sifatnya membangun. Salah satu contohnya yaitu pembangunan jaringan jalan raya.
Sedangkan eksternalitas negatif akan terjadi apabila pengaruh sampingannya
bersifat menganggu dapat berupa gangguan kecil hingga ancaman besar. Contohnya
antara lain, polusi udara dan air, kerusakan karena pertambangan terbuka,
limbah-limbah berbahaya, obat-obatan dan makanan yang membahayakan dan
bahan-bahan radio aktif.
Jenis-Jenis Eksternalitas
Jenis-jenis
ekternalitas yang dapat terjadi dalam interaksi ekonomi (Pearee dan Nash, 1991;
Bohm, 1991):
1) Dampak Suatu Produsen Terhadap Produsen
Lain
Suatu
kegiatan produksi dikatakan mempunyai dampak eksternal terhadap produsen lain
jika kegiatannya itu mengakibatkan terjadinya perubahan atau penggeseran fungsi
produksi dari produsen lain. Dampak atau efek yang termasuk dalam kategori ini
meliputi biaya pemurnian atau pembersihan air yang dipakai (eater intake clen-up costs) oleh
produsen hilir (downstream producers)
yang menghadapi pencemaran air (water
polution) yang diakibatkan oleh produsen hulu (upstream producers). Hal ini terjadi ketika produsen hilir
membutuhkan air bersih untuk proses produksinya. Dampak kategori ini bisa
dipahami lebih jauh dengan contoh lain berikut ini. Suatu proses produksi
(misalnya perusahaan pulp) menghasilkan limbah-residu-produk sisa yang beracun
dan masuk ke aliran sungai, danau, atau semacamnya, sehingga produksi ikan
terganggu dan akhirnya merugikan produsen lain yakni para penangkap ikan
(nelayan). Dalam hal ini, kegiatan produksi pulp tersebut mempunyai dampak
negatif terhadap produksi lain (ikan) atau nelayan, dan inilah yang dimaksud
dengan efek suatu kegiatan produksi terhadap produksi komoditi lain.
2) Dampak Produsen Terhadap Konsumen
Suatu
produsen dikatakan mempunyai eksternal efek terhadap konsumen, jika
aktivitasnya merubah atau menggeser fungsi utilitas rumah tangga (konsumen).
Dampak atau efek samping yang sangat populer dari kategori kedua yang populer
adalah pencemaran atau polusi. Kategori ini meliputi polusi suara (noise), berkurangnya fasilitas daya
tarik alam (amenity) karena
pertambangan, bahaya radiasi dari stasiun pembangkit (polusi udara) serta
polusi air, yang semuanya mempengaruhi kenyamanan konsumen atau masyarakat
luas. Dalam hal ini, suatu agen ekonomi (perusahaan-produsen) yang menghasilkan
limbah (wasteproducts) ke udara atau
ke aliran sungai mempengaruhi pihak dan agen lain yang memanfaatkan sumber daya
alam tersebut dalam berbagai bentuk. Sebagai contoh, kepuasan konsumen terhadap
pemanfaatan daerah-daerah rekreasi akan berkurang dengan adanya polusi udara.
3) Dampak Konsumen Terhadap Konsumen
Lain
Dampak
konsumen terhadap konsumen yang lain terjadi jika aktivitas seseorang atau
kelompok tertentu mempengaruhi atau menggangu fungsi utilitas konsumen yang
lain. Konsumen seorang individu bisa dipengaruhi tidak hanya oleh efek samping
dari kegiatan produksi tetapi juga oleh konsumsi oleh individu yang lain.
Dampak atau efek dari kegiatan suatu seorang konsumen yang lain dapat terjadi
dalam berbagai bentuk. Misalnya, bisingnya suara alat pemotong rumput tetangga,
kebisingan bunyi radio atau musik dari tetangga, asap rokok seseorang terhadap
orang sekitarnya dan sebagainya.
4) Dampak Konsumen Terhadap Produsen
Dampak
konsumen terhadap produsen terjadi jika aktivitas konsumen mengganggu fungsi
produksi suatu produsen atau kelompok produsen tertentu. Dampak jenis ini
misalnya terjadi ketika limbah rumah tangga terbuang ke aliran sungai dan
mencemarinya sehingga menganggu perusahaan tertentu yang memanfaatkan air baik
oleh penangkap ikan (nelayan) atau perusahaan yang memanfaatkan air bersih. Lebih
jauh Baumol dan Oates (1975).
Faktor-Faktor Penyebab Ekternalitas
1) Keberadaan Barang Publik
Karena
sifat barang publik yang tidak ekslusif dan merupakan konsumsi umum. Keadaan seperti akhirnya cendrung
mengakibatkan berkurangnya insentif atau rangsangan untuk memberikan kontribusi
terhadap penyediaan dan pengelolaan barang publik. Kalaupun ada kontribusi, maka sumbangan itu
tidaklah cukup besar untuk membiayai penyediaan barang publik yang efisien,
karena masyarakat cendrung memberikan nilai yang lebih rendah dari yang
seharusnya (undervalued).
2) Sumber Daya Bersama
Keberadaan
sumber daya bersama (common resources)
atau akses terbuka terhadap sumber daya tertentu ini tidak jauh berbeda dengan keberadaan
barang publik di atas.
Sumber-sumber
daya milik bersama, sama halnya dengan barang-barang publik, tidak
ekskludabel. Sumber-sumber daya ini terbuka
bagi siapa saja yang ingin memanfaatkannya, dan cuma-cuma. Namun tidak seperti barang publik, sumber
daya milik bersama memiliki sifat bersaingan. Pemanfaatannya oleh seseorang, akan
mengurangi peluang bagi orang lain untuk melakukan hal yang sama. Jadi, keberadaan sumber daya milik bersama
ini, pemerintah juga perlu mempertimbangkan seberapa banyak pemanfaatannya yang
efisien. Contoh klasik tentang bagaimana
eksternalitas terjadi pada kasus sumberdaya bersama ini adalah seperti yang
diperkenalkan oleh Hardin (1968) yang terkenal dengan istilah tragedi barang
umum (the tragedy of the commons).
3) Ketidaksempurnaan Pasar
Masalah
lingkungan bisa juga terjadi ketika salah satu partisipan didalam suatu tukar
manukar hak-hak kepemilikan (property
rights) mampu mempengaruhi hasil yang terjadi (outcome). Hal ini bisa
terjadi pada pasar yang tidak sempurna (imperfect market) seperti pada kasus
monopoli (penjual tunggal).
4) Kegagalan Pemerintah
Sumber
ketidakefisienan dan atau eksternalitas tidak saja diakibatkan oleh kegagalan
pasar tetapi juga karena kegagalan pemerintah (government failure).
Kegagalan pemerintah banyak diakibatkan tarikan kepentingan pemerintah
sendiri atau kelompok tertentu (interest
groups) yang tidak mendorong efisiensi.
Kelompok tertentu ini memanfaatkan pemerintah untuk mencari keuntungan (rent seeking) melalui proses politik,
melalui kebijaksanaan dan sebagainya.
Eksternalitas Negatif Dan Positif
Dalam Produksi Maupun Konsumsi
1) Eksternalitas Negatif Dari Produksi
Pengertian
eksternalitas negatif lebih kurang adalah efek samping yang negatif dari suatu
tindakan dari pelaku ekonomi (katakanlah suatu perusahaan) yang di derita oleh
pihak yang tidak terlibat dalam tindakan ekonomi tersebut (bystander). Misalnya pada umumnya pabrik akan mengeluarkan asap.
Yang secara umum dapat dikatakan bahwa setiap tindakan ekonomi berpotensi
membawa efek samping, yang permasalahannya hanya pada tingkat gangguannya saja.
Dengan demikian, pelarangan secara total akan menghentikan kegiatan ekonomi pada
sektor usaha ini. dengan adanya efek negatif ini.
2) Eksternalitas Positif dari Produksi
Yang
dimaksud dengan eksternalitas positif adalah dampak yang menguntungkan dari
suatu tindakan yang dilakukan oleh suatu pihak terhadap orang lain tanpa adanya
kompensasi dari pihak yang diuntungkan. meskipun banyak pasar dimana biaya
social melebihi biaya pribadi, ada pula pasar-pasar yang justru sebaliknya,
yakni biaya pribadi para produsen lebih besar dari biaya sosialnya di pasar
inilah, eksternalitasnya bersifat positif, dalam arti menguntungan pihak lain
(selain produsen dan konsumen). Contoh yang dapat di kemukakan disini adalah
pasar robot industry (robot yang khusus di rancang untuk melakukan kegiatan
atau fungsi tertentu di pabrik-pabrik). Robot adalah ujung tombak dari kemajuan
teknologi yang mutakhir. Sebuah perusahaan yang mampu membuat robot, akan
berkesempatan besar menemukan rancangan-rancangan rekayasa baru yang serba
lebih baik. Rancangan ini tidak hanya akan menguntungkan perusahaan yang
bersangkutan, namun juga masyarakat secara keseluruhan karena pada akhirnya
rancangan itu akan menjadi pengetahuan umum yang bermanfaat.
3) Eksternalitas Dalam Konsumsi
Sejauh
ini, eksternalitas yang telah kita bahas hanya eksternalitas yang berkaitan
dengan kegiatan produksi. Selain itu masih ada eksternalitas yang terkandung
dalam kegiatan konsumsi. Konsumsi minuman beralkohol, misalnya, mengandung
eksternalitas negatif jika si peminum lantas mengemudikan mobil dalam keadaan
mabuk atau setengah mabuk, sehingga membahayakan pemakai jalan lainnya.
Eksternalitas dalam konsumsi ini juga ada yang bersifat positif. Contohnya
adalah konsumsi pendidikan. Semakin banyak orang yang terdidik, masyarakat atau
pemerintahnya akan diuntungkan. Pemerintah akan lebih mudah merekrut
tenaga-tenaga cakap, sehingga pemerintah lebih mampu menjalankan fungsinya
dalam melayani masyarakat.
Solusi Swasta Terhadap
Eksternalitas
Kita
telah menyimak bahwa keberadaan eksternalitas itu dapat mengakibatkan alokasi
sumber daya yang dilakukan oleh pasar menjadi tidak efisien. Namun sejauh ini
kita baru mengulas secara sekilas tentang cara-cara mengatasi eksternalitas
tersebut. Dalam prakteknya, bukan hanya pemerintah saja yang perlu dan dapat
mengatasi eksternalitas itu, melainkan juga pihak-pihak nonpemerintah, baik itu
pribadi/kelompok maupun perusahaan/organisasi kemasyarakatan. Untuk mudahnya,
kita sebut saja pihak-pihak nonpemerintah tersebut sebagai pihak “pribadi” atau
“swasta”. Pada dasarnya, tujuan yang hendak dicapai oleh pemerintah maupun
pihak swasta (perorangan dan kelompok), berkenaan dengan penanggulangan
eksternalitas itu sama saja, yakni untuk mendorong alokasi sumber daya agar
mendekati kondisi yang optimum secara sosial. Pada bagian pembahasan berikut
kita akan menelaah solusi-solusi atau upaya-upaya yang dilakukan oleh pribadi
atau swasta (private solutions) dalam
mengatasi persoalan eksternalitas.
1) Jenis-jenis Solusi Swasta
Inefisiensi
pasar akibat eksternalitas tidak perlu selalu harus atau bisa diatasi dengan
penegakan atau peningkatan standar moral, atau ancaman penerapan sanksi sosial.
Misalnya, mengapa orang-orang secara sadar tidak mau membuang sampah sembarangan?
Peraturan resmi yang mengatur tentang sampah memang ada, namun di banyak
tempat, peraturan semacam itu tidak dijalankan secara sungguh-sungguh. Kita
tidak mau membuang sampah di sembarang tempat juga bukan karena takut dengan
peraturan-peraturan semacam itu, namun karena kita mengetahui atau menyadari
bahwa tidaklah baik dan tidak patut sejak kita masih kanak-kanak, bahwa kita
boleh melakukan sesuatu moral inilah yang kemudian membatasi perilaku dan
tindakan kita, agar sedapat mungkin tidak merugikan orang lain. Dalam bahasa
ekonomi, ajaran agama itu meminta kita untuk melakukan internalisasi
eksternalitas.
Contoh
lain solusi swasta, adalah derma atau amal yang seringkali sengaja
diorganisasikan untuk mengatasi suatu eksternalitas. Contohnya adalah Sierra
Club, sebuah organisasi sosial swasta yang sengaja dibentuk untuk turut
melestarikan lingkungan hidup. Organisasi ini mengandalkan pemasukannya dari
donasi pihak-pihak yang bersimpati atau iuran anggota. Hal ini sebagai contoh
untuk eksternalitas negatif. Sedangkan untuk eksternalitas positif, kita
mengetahui banyak perguruan tinggi yang membentuk yayasan yang menghimpun
sumbangan dari para alumni, perusahaan, atau pihak-pihak lain, untuk kemudian
disalurkan sebagai beasiswa.
Pasar
swasta terkadang juga mampu mengatasi masalah eksternalitas, dengan membiarkan
pihak-pihak yang berkepentingan untuk mengatasinya. Motif utama mereka memang
untuk memenuhi kepentingannya sendiri, namun dalam melakukan suatu tindakan,
mereka juga sekaligus mengatasi eksternalitas. Sebagai contoh, kita lihat saja
apa yang akan dilakukan oleh seorang petani apel dan seorang peternak lebah
yang hidup berdekatan. Pada saat lebah-lebah itu mencari madu dari satu bunga
apel ke bunga lainnya, mereka membantu penyerbukan dan mempercepat pohon-pohon
apel itu berbuah. Ini menguntungkan si petani apel. Sedangkan si peternak juga
untung karena ia tidak perlu memberi makan lebah-lebahnya. Namun jika kerja
sama terselubung yang saling menguntungakan itu tidak dipehitungkan, maka kedua
belah pihak bisa merugi. Jika pohon apel yang ditanam si petani terlalu
sedikit, maka lebah-lebah itu akan kekurangan makanan. Sebaliknya, jika lebah
yang dipelihara si peternak terlalul sedikit, maka proses penyerbukan tidak
lancar. Eksternalitas ini dapat diinternalisasikan dengan cara penggabungan
kedua usaha. Si petani membeli seluruh atau sebagian usaha peternakan lebah,
atau sebaliknya si peternak membeli seluruh atau sebagian pohon apel. Jika
kedua usaha itu disatukan, maka pengelolanya akan lebih mudah menentukan berapa
banyak pohon apel yang harus ditanam, dan berapa ekor lebah yang harus
dipelihara, demi membuahkan hasil yang maksimal. Dalam kenyataannya, niat untuk
mengupayakan internalisasi eksternalisasi seperti itulah, yang merupakan
penyebab mengapa banyak perusahaan yang menekuni lebih dari satu bidang/jenis
usaha sekaligus. Cara lain di pasar swasta dalam mengatasi eksternalitas
adalah, penyusunan kontrak atau perjanjian di antara pihak-pihak yang menaruh
kepentingan.
2) Teorema Coase
Ada
sebuah pemikiran yang disebut teorema Coase (Coase therem) mengambil nama perumusnya, yakni ekonom Ronald
Coase-yang menyatakan bahwa solusi swasta bisa sangat efektif seandainya
memenuhi satu syarat. Syarat itu adalah pihak-pihak yang berkepentingan dapat
melakukan negosiasi atau merundingkan langkah-langkah penanggulangan masalah
eksternalitas yang ada diantara mereka, tanpa menimbulkan biaya khusus yang
memberatkan alokasi sumber daya yang sudah ada. Menurut teorema Coase, hanya
jika syarat itu terpenuhi, maka pihak swasta itu akan mampu mengatasi masalah
eksternalitas dan meningkatkan efisiensi alokasi sumber daya.
3) Penyebab Gagalnya Solusi Swasta
Logika
teorema Coase memang meyakinkan, namun tidak selamanya sesuai dengan kenyataan
yang ada. Dalam prakteknya, kita tahu bahwa pelaku-pelaku ekonomi
swasta/pribadi seringkali gagal memperoleh pemecahan yang efisien, atas suatu
masalah yang bersumber dari eksternalitas. Teorema Coase ternyata hanya
berlaku, jika pihak-pihak yang berkepentingan tidak dihadapkan pada kendala
untuk mencapai dan melaksanakan kesepakatan. Itu berarti, peluang kesepakatan
memang selalu terbuka, namun hal itu tidak selalu bisa diwujudkan.
Kebijakan Publik Untuk Mengatasi
Eksternalitas
1) Regulasi
Mengatasi
suatu eksternalitas dengan melarang atau mewajibkan perilaku tertentu dari
pihak-pihak tertentu yang disebut regulasi atau pendekatan komando dan kontrol
untuk melenyapkan eksternalitas. Seperti pemerintah dapat menindak pihak-pihak
tertentu yang mencemari lingkungan dengan limbah produksinya.
2) Pajak Pigovian Dan Subsidi
Pajak
Pigovian adalah pajak yang khusus diterapkan untuk mengoreksi dampak dari suatu
eksternalitas negatif. Disebut pajak pigou karena ditemukan oleh ekonom yang
bernama Arthur Pigou (1877-1959). Bentuk dari pajak tersebut adalah ketika ada
dua pabrik yaitu pabrik baja dan pabrik kertas yang masing-masing membuang limbah
500 ton per tahun, maka hanya dua pilihan yang mereka lakukan. Pertama, Badan
Perlindungan Lingkungan Hidup (EPA, Environmental
Protection Agency) akan mewajibkan semua pabrik untuk mengurangi limbahnya
hingga 300 ton per tahun atau yang kedua, mereka akan dikenai pajak sebesar
$50,000 untuk setiap ton limbah yang dibuang oleh setiap pabrik.
Memberi subsidi untuk kegiatan-kegiatan yang
memunculkan eksternalitas positif.

